Korea Utara meluncurkan rudal balistik dari wilayah Wonsan ke arah Laut Timur pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sekitar pukul 06.30 pagi waktu setempat. Insiden ini mendorong militer Korea Selatan meningkatkan status siaga penuh dan memperketat pengawasan terhadap potensi peluncuran lanjutan.
Peningkatan Status Siaga dan Koordinasi Pertahanan Tiga Negara
Kepala Staf Gabungan Seoul (JCS) menyatakan bahwa militer Korea Selatan kini mempertahankan kesiapsiagaan penuh sembari membagikan informasi intelijen secara intensif dengan Amerika Serikat dan Jepang. CNN Indonesia melaporkan bahwa ketiga negara tersebut menjaga postur pertahanan yang kuat melalui pertukaran data yang erat guna memantau aktivitas rudal balistik Pyongyang. Peluncuran terbaru ini tercatat sebagai yang kedua dalam kurun waktu 13 hari terakhir, menyusul insiden serupa yang terjadi di perairan yang sama pada 20 September lalu.
Sengketa Ledakan Ranjau Darat di Zona Demiliterisasi
Eskalasi militer ini berlangsung di tengah ketegangan politik yang memanas akibat ledakan ranjau darat di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 21 September. Insiden tersebut melukai tiga personel militer Korea Selatan, dengan dua di antaranya menderita luka serius. Militer Seoul bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuding Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan ranjau di sisi perbatasan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.
Langkah penutupan ini kian masif sejak Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai “musuh utama” negaranya pada tahun 2024. Sejalan dengan itu, ANTARA News mencatat bahwa Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young sempat mengusulkan perundingan langsung dengan Pyongyang pada Jumat untuk memverifikasi ulang Garis Demarkasi Militer (MDL) guna meredakan ketegangan garis perbatasan.

Bantahan Keras dan Penolakan Perundingan dari Pyongyang
Pemerintah Korea Utara secara tegas membantah keterlibatan dalam insiden ledakan ranjau di DMZ. Melalui pernyataan resmi yang dirilis pada 30 September, Kim Yo-jong, adik dari pemimpin Kim Jong Un, menuduh Seoul merekayasa temuan tersebut dan memperingatkan adanya pembalasan tanpa ampun jika pihak Selatan mengambil tindakan balasan. Kantor berita KCNA juga melaporkan bahwa Kim Jong Un menolak usulan perundingan dari Menteri Unifikasi Chung Dong-young, sementara tuntutan permintaan maaf resmi dari Seoul ditolak mentah-mentah sebagai hal yang konyol.
Pertanyaan Seputar Konflik Perbatasan Korea
Kapan dan dari mana rudal balistik terbaru Korea Utara diluncurkan?
Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran rudal balistik tersebut pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sekitar pukul 06.30 pagi dari wilayah Wonsan, Korea Utara, mengarah ke Laut Jepang atau Laut Timur.

Berapa banyak personel militer Korea Selatan yang menjadi korban dalam insiden ranjau DMZ?
Tiga personel militer Korea Selatan mengalami luka-luka akibat ledakan ranjau darat pada 21 September di Zona Demiliterisasi, dengan dua di antaranya menderita luka serius.
Bagaimana respons resmi Korea Utara terhadap tuduhan penanaman ranjau dan usulan perundingan perbatasan?
Melalui pernyataan Kim Yo-jong pada 30 September, Pyongyang membantah keterlibatan mereka, menuduh Seoul merekayasa temuan tersebut, dan menolak usulan perundingan dari Menteri Unifikasi Chung Dong-young.
Peluncuran rudal ini mengikuti rangkaian uji coba sebelumnya yang dicatat militer Korea Selatan pada 20 September di perairan Laut Jepang.