Korea Utara meluncurkan sebuah rudal balistik ke arah Laut Timur pada Sabtu pagi, menyusul kebuntuan sengit setelah Seoul menuntut permintaan maaf atas ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang melukai tiga prajuritnya, CNN Indonesia melaporkan. Kepala Staf Gabungan Seoul menyatakan bahwa proyektil tersebut dilepaskan dari wilayah Wonsan dan terbang sejauh lebih dari 700 kilometer, menambah ketegangan di sepanjang perbatasan antar-Korea.
Peluncuran Rudal Balistik dari Wonsan Menuju Laut Timur
Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran rudal balistik jarak jauh tersebut pada Sabtu pagi waktu setempat.
“Korea Selatan, AS, dan Jepang mempertahankan postur pertahanan yang tangguh melalui pertukaran informasi yang erat terkait rudal balistik Korea Utara,” ujar Kepala Staf Gabungan Seoul, dikutip dari AFP.
Ledakan Ranjau di Zona Demiliterisasi dan Tuntutan Permintaan Maaf
Peluncuran rudal ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah ketegangan melonjak akibat insiden di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ). Pada 21 September, sebuah ledakan ranjau di zona penyangga tersebut melukai tiga personel militer, termasuk dua tentara Korea Selatan, menurut laporan ANTARA News yang mengutip kantor berita Yonhap. Militer Korea Selatan bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelidiki insiden tersebut dan menyimpulkan bahwa ledakan disebabkan oleh ranjau yang dipasang oleh pihak Korea Utara di sisi selatan perbatasan.

Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kang Shin-chul, menyatakan bahwa ranjau-ranjau tersebut ditanam sebagai bagian dari proyek penguatan perbatasan yang masif oleh Pyongyang. Sejak Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utama pada tahun 2024, militer negara itu secara aktif membangun rintangan anti-tank dan menutup perbatasan secara permanen. Merespons insiden yang mencederai prajuritnya, militer Seoul secara terbuka menuntut permintaan maaf resmi dari Pyongyang.
Usulan Perundingan Garis Perbatasan dan Penolakan Keras dari Pyongyang
Di tengah ketegangan militer, Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young sempat mengambil jalur diplomasi dengan mengusulkan perundingan langsung. “Pada akhirnya, akar masalah insiden ini terletak pada persoalan garis gencatan senjata,” ujar Chung seperti dilansir ANTARA News. Chung mengusulkan agar kedua belah pihak segera bertemu untuk memverifikasi Garis Demarkasi Militer (MDL) serta melakukan survei ulang.
Namun, Pyongyang menolak mentah-mentah ajakan tersebut dan membantah keras keterlibatan mereka dalam insiden ranjau DMZ.
Pertanyaan Umum Seputar Insiden Perbatasan dan Peluncuran Rudal
Apa yang memicu peluncuran rudal balistik terbaru oleh Korea Utara?
Peluncuran tersebut terjadi menyusul tuntutan keras dari militer Korea Selatan agar Pyongyang meminta maaf atas insiden ledakan ranjau di DMZ pada 21 September yang melukai tiga personel militer.
Bagaimana hasilinvestigasi ledakan di Zona Demiliterisasi?
Investigasi gabungan antara militer Korea Selatan dan Komando PBB menyimpulkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh ranjau Korea Utara yang dipasang di sisi selatan perbatasan sebagai bagian dari proyek penutupan permanen perbatasan.

Bagaimana tanggapan resmi dari pihak Korea Utara?
Korea Utara membantah bertanggung jawab atas ledakan ranjau tersebut, menolak tawaran perundingan dari Menteri Unifikasi Chung Dong-young, dan mengecam tuntutan permintaan maaf Seoul melalui pernyataan resmi Kim Yo Jong.
Berapa jarak tempuh rudal balistik yang diluncurkan dari Wonsan?
Kepala Staf Gabungan Seoul mencatat bahwa rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Wonsan tersebut terbang sejauh lebih dari 700 kilometer ke arah Laut Timur.
Worth a look